MUARA BUNGO – Petani sawit di wilayah kecamatan Pelepat, Pelepat Ilir dan sekitarnya, mengeluhkan permainan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang dilakukan oleh pemegang Delivery order (DO) milik PT Sari Aditya Loka atau PT. SAL.
Tohirun, salah satu petani sawit mengungkapkan, harga TBS di loading ramp milik Bejo dan keuarganya yang merupakan pemegang DO PT SAL jauh lebih murah dibanding loading ramp milik warga yang tidak memegang DO PT SAL.
“Harga TBS di loading ramp pemegang DO PT. SAL lebih murah dibanding yang lain. Tentu ini sangat merugikan dan mencekik banyak petani yang tidak memiliki banyak pilihan loading ramp tempat menjual TBS hasil panen mereka,” ungkap Tohirun, Sabtu (13/9/2025).
Hanya saja menurut Tohirun, pemilik loading ramp yang berkapasitas kecil tidak segampang itu bisa menjual buah sawit tersebut ke Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) karena tetap saja yang diprioritaskan oleh perusahaan adalah loading ramp pemegang DO mereka.
Lalu berapa selisih harga antara loading ramp masyarakat biasa dengan loading ramp yang ada kerjasama dengan PT SAL seperti milik Bejo? Menurut Tohirun selisihnya mencapai Rp 300 per kilogram.
“Kondisi itu sangat merugikan petani. Selisih harga di loading ramp itu sangat berarti nilainya bagi petani-petani kecil yang menggantungkan hidup mereka dari kebun sawit,” kata Tohirun.
Jelas Tohirun, petani sebenarnya bisa saja menjual langsung ke PT SAL dalam jumlah tertentu tanpa melalui DO Bejo, namun situasinya tidak jauh berbeda.
“Harga memang tinggi di pabrik langsung, tapi TBS mereka akan disortir lebih ketat sehingga mengurangi timbangan yang cukup banyak dibanding melalui ramp loading,” papar Tohirun.
Melihat situasi itu, Tohirun menduga adanya kerjasama tertentu antara pihak PT SAL dengan Bejo dan keluarganya sebagai pemegang utama DO PT SAL.
“Kalau terus dibiarkan seperti itu maka petani-petani sawit akan sulit sejahtera, karena harga jual TBS mereka selalu dipermainkan,” tandasnya.(tim)












